Konsentrasi kembali ke kampus islam, Sekolah Tinggi Pendidikan Agama Islam. Dengan Konsep Islam yang bersumber pada Al-Qur'an dan Al Hadits Sebagai Dasar Hukum Yang Terjaga Kemurniannya

Senin, 09 April 2012

Syiah Ismailiyah Bab 1-3

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Ismailiyah (bahasa Arab: الإسماعيليون al-Ismā'īliyyūn; bahasa Urdu: Ismā'īlī, bahasa Persia: Esmā'īliyān) adalah mazhab dengan jumlah penganut kedua terbesar dalam Islam Syi'ah, setelah mazhab Dua Belas Imam (Itsna 'Asyariah). Sebutan Ismailiyah diperoleh pengikut mazhab ini karena penerimaan mereka atas keimaman Isma'il bin Ja'far sebagai penerus dari Ja'far ash-Shadiq. Pengikut mazhab Itsna 'Asyariah, di lain pihak menerima Musa al-Kadzim sebagai Imam mereka. Baik Ismailiyah maupun Itsna 'Asyariah sama-sama menerima keenam Imam Syi'ah terdahulu, sehingga memiliki banyak kesamaan pandangan atas sejarah awal mazhabnya.

Teologi Ismailiyah pernah menjadi yang terbesar di antara mazhab-mazhab Islam Syi'ah, dan mencapai puncak kekuasaan politiknya pada masa kekuasaan Dinasti Fatimiyah pada abad ke-10 sampai dengan ke-12 Masehi.
Ajaran Ismailiyah, yang juga dikenal dengan nama mazhab Tujuh Imam, berkembang menjadi sistem kepercayaannya sekarang setelah Imam Muhammad bin Ismail meninggal; atau "menghilang" sebagaimana kepercayaan pengikut Ismailiyah. Ajaran Ismailiyah memiliki ciri penekanan pada aspek batiniah (esoterik) dari agama Islam. Dibandingkan dengan perkembangan ajaran Dua Belas Imam yang pemikirannya berorientasi pada aspek lahiriah (eksoterik), yaitu akhbar dan ushul, maka dapat dikatakan ajaran Syi'ah berkembang ke dua arah yang berbeda: ajaran Ismailiyah yang lebih menekankan kemistisan sifat sang Imam dan kemistisan jalan menuju Allah, dan ajaran Dua Belas Imam yang lebih menekankan pemahaman atas syariah dan sunnah dari Ahlul Bait.

Meskipun terdapat beberapa kelompok pecahan dalam Ismailiyah, sekarang istilah ini umumnya digunakan untuk menyebut komunitas Nizari. Mereka adalah pengikut dari Aga Khan, yang merupakan kelompok Ismailiyah dengan jumlah penganut terbesar. Di antara kelompok-kelompok yang ada memang terdapat perbedaan dalam hal kebiasaan ibadah lahiriah, akan tetapi umumnya secara teologi spiritual tetap sesuai dengan kepercayaan imam-imam awal Ismailiyah. Kaum penganut Ismailiyah umumnya dapat ditemukan di India, Pakistan, Suriah, Lebanon, Israel, Arab Saudi, Yaman, Tiongkok, Yordania, Uzbekistan, Tajikistan, Afganistan, Afrika Timur, dan Afrika Selatan. Pada beberapa tahun terakhir, sebagian di antara mereka juga beremigrasi ke Eropa, Australia, Selandia Baru

B.    RUMUSAN MASALAH
Setiap mazhab memiliki ajaran-ajaran pokok sebagai pondasi mazhab tersebut. Dengan bergulirnya masa, akan ditemukan beberapa ajaran baru yang berbeda dengan dengan ajaran-ajaran tersebut dari segi kurus dan gemuknya. Sebagai contoh, satu mazhab meyakini bahwa harus ada sistem imamah yang ditentukan oleh pembawa Syari’at sebagai penerus keberlangsungan dakwah Rasulullah SAWW. Ini adalah sebuah ajaran pokok yang harus dimiliki oleh mazhabnya. Akan tetapi, kadang-kadang terjadi perbedaan pendapat di antara para pemeluknya dalam menentukan siapakah yang berhak menjadi imam sebagai penerusnya. Dengan demikian, akan muncul aliran baru yang merupakan cabang dari mazhab itu. Mayoritas agama langit seperti agama Yahudi, Kristen, Majusi dan Islam mengalami realita tersebut di atas.
Mazhab Syi’ah pun tidak terkecualikan dari realita ini. Pada masa hidupnya Imam Ali a.s., Imam Hasan a.s. dan Imam Husein a.s. tidak terjadi perpecahan dalam tubuh mazhab Syi’ah. Setelah Imam Husein a.s. syahid, mayoritas pengikut Syi’ah menjadikan Imam Ali As-Sajjad a.s. sebagai imam keempat dan kelompok minoritas yang dikenal dengan sebutan “Kaisaniyah” menjadikan putra ketiga Imam Ali a.s. yang bernama Muhammad bin Hanafiah sebagai imam keempat dan mereka meyakini bahwa ia adalah Imam Mahdi a.s. yang ghaib di gunung Ridhawi. Di akhir zaman ia akan muncul kembali.

Setelah Imam Sajjad a.s. syahid, mayoritas pengikut Syi’ah mengakui Imam Baqir a.s., putranya sebagai imam Syi’ah dan kelompok minoritas meyakini Zaid, putranya yang lain sebagai penggantinya. Kelompok ini akhirnya dikenal dengan nama Syi’ah Zaidiyah.
Pasca syahadah Imam Baqir a.s., para pengikut Syi’ah menjadikan Imam Ja’far Ash-Shadiq a.s., putranya sebagai imam keenam Syi’ah. Dan setelah Imam Shadiq a.s. syahid, para pengikut Syi’ah terpecah menjadi lima golongan:
a.    Mayoritas pengikut Syi’ah yang meyakini Imam Musa Al-Kazhim a.s., putranya sebagai imam Syi’ah yang ketujuh.
b.    Kelompok kedua menjadikan putra sulungnya yang bernama Ismail sebagai imam Syi’ah  yang ketujuh. Kelompok ini akhirnya dikenal dengan nama “Syi’ah Ismailiyah”.
c.    Kelompok ketiga menjadikan putranya yang bernama Abdullah Al-Afthah sebagai imam Syi’ah yang ketujuh. Kelompok ini akhirnya dikenal dengan nama “Syi’ah Fathahiyah”.
d.     Kelompok keempat menjadikan putranya yang bernama Muhammad sebagai imam Syi’ah yang ketujuh.
e.     Kelompok kelima menganggap bahwa Imam Shadiq a.s. adalah imam Syi’ah terakhir dan tidak ada imam lagi sepeningalnya.
Setelah Imam Musa Al-Kazhim a.s. syahid, mayoritas pengikut Syi’ah meyakini Imam Ridha a.s., putranya sebagai imam Syi’ah yang kedelapan dan kelompok minoritas dari mereka mengingkari imamahnya dan menjadikan Imam Kazhim a.s. sebagai imam Syi’ah terakhir. Kelompok ini akhirnya dikenal dengan nama “Syi’ah Waqifiyah”.
Setelah Imam Ridha a.s. syahid hingga lahirnya Imam Mahdi a.s., di dalam tubuh Syi’ah tidak terjadi perpecahan yang berarti. Jika terjadi perpecahan pun, itu hanya berlangsung beberapa hari dan setelah itu sirna dengan sendirinya. Seperti peristiwa Ja’far bin Imam Ali Al-Hadi a.s., saudara Imam Hasan Al-Askari a.s. yang mengaku dirinya sebagai imam Syi’ah setelah saudaranya syahid.
Semua kelompok dan aliran cabang di atas telah sirna dengan bergulirnya masa kecuali tiga aliran yang hingga sekarang masih memiliki pengikut yang tidak sedikit. Tiga aliran Syi’ah tersebut adalah Syi’ah Zaidiyah, Syi’ah Ismailiyah dan Syi’ah Imamiah Itsna ‘Asyariyah.

BAB II
PEMBAHASAN

A.    SYI’AH ISMAILIYAH
Syi’ah Ismailiyah adalah kelompok Syiah yang terbesar kedua setelah Itsna ‘Asyariyah. Kelompok ini kurang mendapat perhatian bahkan informasi mengenainya tidak luas. Bahkan selama berabad-abad informasi yang benar dan dapat dipercaya untuk para peneliti boleh dikata hampir tidak ada. Penelitian terbaru pada abad dua puluh sangat membantu mengenal Ismailiyah. Kelompok Ismailiyah adalah pendiri negara yang bermazhab Syiah di Afrika Utara.  Artikel ini berusaha untuk menjelaskan sejarah Ismailiyah namun, beberapa akidah dan pandangan keagamaan mereka tidak luput juga dari perhatian.

B.    SEJARAH ISMAILIYAH
Terbentuknya kelompok Syiah Ismailiyah lebih dikarenakan perbedaan penetapan pelanjut Imam Ja’far Shadiq as. Pada tahun 148 H/765 M, di kota Kufah sebagian orang-orang Syiah memisahkan dirinya. Pemisahan ini terkait erat dengan perjuangan melawan dinasti Abbasiyah. Ide mereka dibalik perjuangan tersebut adalah keyakinan bahwa pemerintahan yang berdasarkan keadilan hanya dapat dibenarkan bila dilakukan di belakang kepemimpinan Ismail bin Ja’far (anak laki tertua Imam Ja’far Shadiq AS.). Semboyan ini menarik perhatian orang-orang Syiah di Iran, Irak, Syiria, Yaman, Bahrain dan Afrika Utara. Gerakan ini biasa disebut As-Da’wah Al-Hadiyah (Dakwah Hidayah).

C.    ISMAILIYAH DAN ALIRAN-ALIRAN CABANGNYA
1.    Bathiniyah
Imam Shadiq a.s. mempunyai seorang putra sulung yang bernama Ismail. Ia meninggal dunia ketika ayahnya masih hidup. Imam Shadiq a.s. mempersaksikan kepada seluruh khalayak bahwa putranya yang bernama Islma’il telah meninggal dunia. Ia pun telah mengundang gubernur Madinah kala itu untuk menjadi saksi bahwa putranya itu telah meninggal dunia. Meskipun demikian, sebagian orang meyakini bahwa ia tidak meninggal dunia. Ia ghaib dan akan muncul kembali. Ia adalah Imam Mahdi a.s. yang sedang dinanti-nantikan kedatangannya. Mereka meyakini bahwa persaksian Imam Shadiq a.s. di atas hanyalah sebuah taktik yang dilakukannya untuk mengelabuhi Manshur Dawaniqi karena khawatir ia akan membunuhnya.
Sebagian kelompok meyakini bahwa imamah adalah hak mutlak Ismail yang setelah kematiannya, hak itu berpindah kepada putranya yang bernama Muhammad. Akan tetapi, sebagian kelompok yang lain meyakini bahwa meskipun Ismail telah meninggal dunia ketika ayahnya hidup, ia adalah imam yang harus ditaati. Setelah masanya berlalu, imamah itu berpindah kepada putranya yang bernama Muhammad bin Ismail dan akan diteruskan oleh para anak cucunya.

Dua kelompok pertama telah punah ditelan masa. Kelompok ketiga hingga sekarang masih memiliki pengikut dan mengalami perpecahan internal juga.
Secara global, Ismailiyah memiliki ajaran-ajaran filsafat yang mirip dengan filsafat para penyembah bintang dan dicampuri oleh ajaran irfan India.
Mereka meyakini bahwa setiap hukum Islam memiliki sisi lahiriah dan sisi batiniah. Sisi lahiriah hukum hanya dikhususkan bagi orang-orang awam yang belum berhasil sampai kepada strata spiritual yang tinggi. Oleh karena itu, mereka harus melaksanakan hukum tersebut dengan praktik rutin sehari-hari. Mereka juga meyakini bahwa hujjah Allah ada dua macam : nathiq (berbicara) dan shaamit (diam). Hujjah yang pertama adalah Rasulullah SAWW dan hujjah yang kedua adalah imam sebagai washinya.

2.    Nazzariyah dan Musta’liyah
Ubaidillah Al-Mahdi berkuasa di benua Afrika (tepatnya di Mesir) pada tahun 296 H. dan ia adalah pendiri dinasti Fathimiyah. Mazhab yang dianutnya adalah Syi’ah Ismailiyah. Setelah ia meninggal dunia, tujuh orang dari keturunannya meneruskan dinastinya tanpa terjadi perpecahan di dalam tubuh mazhab Ismailiyah. Perpecahan di dalam tubuh mazhab Ismailiyah terjadi setelah raja ketujuh dinasti Fathimiyah, Mustanshir Billah Sa’d bin Ali meninggal dunia. Ia memiliki dua orang putra yang masing-masing bernama Nazzar dan Musta’li. Setelah ayah mereka meninggal dunia, terjadi persengketaan di antara kakak dan adik tersebut berkenaan dengan urusan khilafah. Setelah terjadi peperangan di antara mereka yang memakan banyak korban, Musta’li dapat mengalahkan Nazzar. Ia mengangkap Nazzar dan menghukumnya hingga ajal menjemputnya.
Setelah persengketaan tersebut, dinasti Fathimiyah yang bermazhab Ismailiyah terpecah menjadi dua golongan : Nazzariyah dann Musta’liyah.
    Nazzariyah adalah para pengikut Hasan Ash-Shabaah, seseorang yang pernah memiliki hubungan dekat dengan Mustanshir Billah. Setelah Mustanshir Billah meninggal dunia, ia diusir dari Mesir oleh Musta’li karena dukungannya terhadap Nazzar. Ia lari ke Iran, dan akhirnya muncul di benteng “Al-Maut” yang berada di sebuah daerah dekat kota Qazvin. Ia berhasil menaklukkan benteng tersebut dan benteng-benteng yang berada di sekitarnya. Kemudian, ia memerintah di situ. Sejak pertama kali memerintah, ia mengajak penduduk sekitar untuk menghidupkan kembali nama baik Nazzar dan mengikuti ajaran-ajarannya.

Setelah Hasan Ash-Shabaah meninggal dunia pada tahun 518 H., Buzurg Oumid Rudbari menggantikan kedudukannya dan setalah ia meninggal dunia, putranya yang bernama Kiyaa Muhammad mengganti kedudukannya. Keduanya memerintah dengan mengikuti cara dan metode Hasan Ash-Shabaah. Sepeninggal Kiyaa Muhammad, putranya yang bernama Hasan Ali Dzikruhus Salam menggantikan kedudukannya. Ia menghapus semua cara dan ajaran Hasan Ash-Shabaah dan mengikuti ajaran-ajaran aliran Bathiniyah.

    Musta’liyah adalah para pengikut Musta’li, salah seorang raja dinasti Fathimiyah yang pernah berkuasa di Mesir. Aliran ini akhirnya musnah pada tahun 557 H. Setelah beberapa tahun berlalu, sebuah aliran baru muncul di India yang bernama “Buhreh” (Buhreh adalah bahasa Gujarat yang berarti pedagang) dan meneruskan ajaran-ajaran Musta’liyah yang hingga sekarang masih memiliki pengikut.
•    Duruziyah
Pada mulanya Duruziyah adalah para pengikut setia para kahlifah dinasti Fathimiyah. Akan tetapi, ketika Khalifah keenam dinasti Fathimiyah memegang tampuk kekuasaan, atas ajakan Neshtegin Duruzi mereka memeluk aliran Bathiniyah. Mereka meyakini bahwa Al-Hakim Billah ghaib dan naik ke atas langit. Ia akan muncul kembali di tengah-tengah masyarakat.
•    Muqanni’iyah
Pada mulanya Muqanni’iyah adalah pengikut ‘Atha` Al-Marvi yang lebih dikenal dengan sebutan Muqanni’.Ia adalah salah seorang pengikut Abu Muslim Al-Khurasani. Setelah Abu Muslim meninggal dunia, ia mengaku bahwa ruhnya menjelma dalam dirinya. Tidak lama setelah itu, ia mengaku nabi dan kemudian mengaku dirinya Tuhan. Pada tahun 163 H., ia dikepung di benteng Kish yang berada di salah satu negara-negara Maa Wara`annahr. Karena yakin dirinya akan tertangkap dan akhirnya terbunuh, ia menyalakan api unggun lalu terjun ke dalamnya bersama beberapa orang pengikutnya. Para pengikutnya akhirnya menganut mazhab Ismailiyah yang beraliran faham Bathiniyah.
D.    NAMA PARA IMAM ISMAILIYAH :
Ja’far bin Muhammad Shadiq (83-148 H)
Ismail bin Ja’far (101-159 H)
Muhammad bin Ismail (dikenal dengan nama Maimun qaddah) (141-192 H)
Abdulah bin Muhammad (179-212 H)
Ahmad bin Abdulah (198-265 H)
Husein bin Ahad (219-287 H)
Muhammad bin Husein (Ubaidulah Al-Mahdi) (260-323 H)
Muhammad Al-Qaim bi Amrilah (280-334 H)
Al-Manshur bi Alah (303-343 H)
Mu’izzun li Dinilah (317-365 H)
‘Azizun bi Alah (344-486 H)
Al-Hakim bi Alah (386-411 H)
Al-Zhahir li ‘Izaz Dinilah (411-428 H)
Al-Mustanshir bi Alah, ia selama enam puluh tahun memerintah (427-487 H)

Periode Ismailiyah Pertama Dapat Dipetakan Menjadi 3 Bagian (Menurut Henry Corben). Ketiga Periode Itu Sebagai Berikut :
1.    Periode Pembentukan
Periode pembentukan adalah periode pertama. Periode ini dimulai dari meninggalnya Imam Shadiq AS. Periode ini berlanjut hingga Muhammad bin Ismail menyembunyikan dirinya. Pada masa ini persangkaan menyembunyikan segalanya. Hal ini lebih dikarenakan Kelompok Itsna ‘Asyariyah dan Ismailiyah sebagai dua kelompok asli Syiah sedang dalam pembentukan. Di sisi lain, pemerintahan Bani Abbasiyah tidak setuju dengan mereka. Pengejaran dan siksaan dilakukan untuk mengontrol mereka. Kondisi ini membuat mereka memilih bersembunyi. Sejumlah karya-karya yang mereka hasilkan sangat sedikit karena kondisi sa yang sulit dan akidah mereka lebih sering disampaikan dari mulut ke mulut bukan dengan tulisan.

2.    Periode Tertutup
Periode ini dimulai setelah Muhammad bin Ismail menjadi Imam Ismailiyah hingga terbentuknya pemerintahan Ismailiyah di Maroko. Kecintaan dan penghormatan masyarakat Madinah kepada Imam Kazhim AS. membuat pengaruh Muhammad bin Ismailiyah berkurang. Keadaan ini membuat pengikut Muhammad bin Ismail melakukan eksodus ke Irak dan Iran. Di sana mereka memulai kehidupan tertutup. Untuk memberi petunjuk kepada para pengikutnya di manapun berada dikirimkan penyeru (Da’i). Tidak ketinggalan anak keturunannya pergi ke Salmaniyah sebuah kota di Syiria. Kehidupan tertutup pun dilakoni di sana. Hubungan dengan masyarakat Ismailiyah dilakukan lewat penyeru mereka.

3.    Periode Kemunculan
Setelah terbentuknya pemerintahan Ismailiyah di Maroko, pemerintahan Fathimiyyun, para Imam Ismailiyah tidak lagi bersembunyi. Secara terbuka mereka mendakwahkan ajarannya. Pada masa-masa inilah pemikiran Syiah Ismailiyah dibukukan.

Ismailiyah Fathimiyah (Fathimiyyun)
Periode Ismailiyah Fathimiyyun dimulai dari tahun 297 H (909 M), yang ditandai dengan kekhalifahan Ubaidilah Al-Mahdi dilanjutkan sampai delapan khalifah setelahnya hingga tahun 487 H (1094 M). Para khalifah Fathimiyyun sebagaimana telah disebutkan di atas adalah sebagai berikut : Ubaidilah Al-Mahdi, Al-Qa’im bi Amrilah, Al-Manshur bi Alah, Mu’izzun li Dinilah, ‘Azizun bi Alah, Al-Hakim Bi Alah, Az-Zhahir li ‘Izazidinilah dan yang terakhir Al-Mustanshir bi Alah. Mereka memerintah selama 185 tahun. Selama 185 tahun ini dapat dikatakan sebagai masa keemasan Ismailiyah. Sastra Ismailiyah juga berkembang dengan pesat. Ilmuwan-ilmuwan seperti Abu Hatim, Ar-Razi, Nashir Khasru dan lain-lain hidup di masa keemasan ini. luas kekuasaan pemerintahan mereka dimulai dari Maroko hingga Mesir. Setelahnya, sebagian besar daerah-daerah kekuasaan pemerintahan Islam dikuasainya. Masiniun bahkan menamakan abad keempat hijriah (abad kesepuluh masehi) sebagai abad Ismailiyah Islam.

Periode Fathimiyyun dapat dibagi menjadi dua bagian :
1.    Periode Awal
Periode ini selama 65 tahun. Dimulai dari tahun 297 hingga 362. Periode ini dihitung mulai dari Ubaidilah Al-Mahdi menjadi khalifah di Maroko sampai ekspansi mereka ke Mesir oleh Al-Mu’izzu bi Alah sekaligus dijadikannya Mesir sebagai ibu kotanya.

Pada tahun 290 ketika Zakarawiyah bin Mahriyah melakukan pemberontakan dan menguasai banyak daerah, Ubaidilah Al-Mahdi kemudian lari ke Salmaniiyah Di Syiria. Dari Salmiyah ia pergi ke Ramulah Palestina. Dari Ramulah ia kemudian pergi ke Mesir. Di Mesir ia baru mengetahui kalau kelompok Qaramithah banyak membunuh masyarakat Salmaniyah. Oleh sebab itu, dari pada memilih Yaman ia kemudian pergi menuju Maroko. Di Maroko ia membangun sebuah kerajaan kecil. Pada akhirnya, setelah melakukan peperangan-peperangan pada bulan Rabi’u At-Tsani tahun 297 di kota Raqqadah ia menjadi khalifah. Setelah menjadi khalifah ia memilih sebutan ‘Al-Mahdi bi Alah’ dan ‘Amirul Mukminin’. Dikarenakan nama Sayyidah Fathimah, putri Rasululah, di mana Ubaidilah dan pengganti setelahnya menganggap Fathimah sebagai nenek mereka (hal ini juga dikarenakan keyakinan mereka bahwa Mahdi adalah keturunan Fathimah). Ia juga memberi gelar dirinya dengan ‘Fathimiyah’. Dengan menyebut dirinya sebagai Imam, dimulailah periode keterbukaan. Untuk menyebarkan pemikiran Syiah mereka berkeyakinan bahwa yang paling pokok untuk dilakukan adalah menghancurkan pemerintahan Bani Abbasiyah. Dan itu harus dimulai dari Mesir. Namun, mereka tidak pernah menguasai Mesir akan tetapi, Ubaidilah dengan membangun kota Mahdiyah dan ekspansinya ke Selatan Eropa yang menghasilkan rampasan perang yang banyak membuat ia mampu membangun imperiumnya yang kokoh.

2.    Periode Perkembangan
Periode ini berlangsung selama 125 tahun dan dimulai dari tahun 362 hingga 487 H. Periode ini dikenal dengan masa keemasan Syiah Ismailiyah. Pemerintahan yang dibangun sangat tangguh. Hal ini membuat mereka menulis dan membenahi akidah mereka yang selama ini disebarkan secara sembunyi-sembunyi. Al-Mu’izzu bi Alah dengan menguasai Mesir dan dengan dibantu oleh perdana menterinya Jauhar bin Abdilah pada tahun 358 menjadikan Kairo sebagai pusat pemerintahannya. Pada tahun 359 mereka membangun universitas Islam Al-Azhar. Pada tahun 361 secara resmi pemerintahannya dipindah dari Maroko ke Mesir. Al-Mu’izzu bi Alah berusaha keras untuk menyatukan semua daerah Islam. Dan itu dimulai dengan memperbaharui pondasi pemikiran keagaman dan keinginannya adalah kembali kepada pemikiran orang-orang sebelumnya. Setelah Al-Mu’izzu bi Alah wafat, ia digantikan oleh anaknya Abu Manshur Ranzar yang dikenal sebagai Al-‘Azizu bi Alah. Semasa pemerintahannya Al-‘Azizu bi Alah banyak memanfaatkan orang-orang Yahudi dan Masehi. Ia sangat menunjukkan sikap toleransinya dengan agama lain. Pada perayaan ‘Asyura dan Hadir ia mengadakannya secara besar-besaran. Menurut sumber-sumber sejarah Al-‘Azizu bi Alah dianggap sebagai khalifah Fathimiyyun yang memiliki wawasan keilmuan paling luas dibandingkan dengan yang selainnya.

Sepeninggal Al-‘Azizu bi Alah, Abu Ali Manshur anaknya memegang tampuk kepemimpinan. Ia bergelar Al-Hakim Bi Alah. Ia berkuasa dari tahun 386 hingga 411. Al-Hakim berbeda dengan ayahnya dalam memerintah berkaitan dengan orang Yahudi dan Masehi. Bahkan dengan Ahli Sunnah pun ia bersikap keras Ia bahkan sempat memerintahkan untuk melaknat khulafa Ar-Rasyidin (tanpa Imam Ali AS. tentunya). Usahanya ini untuk menarik hati kaum Syiah lainnya.

Al-Hakim pada tahun 403 memilih menjadi seorang zahid. Ia melarang orang-orang bersujud kepadanya. Ia senantiasa memakai baju para zahid. Setiap malam ia pergi ke Fustat dan Kairo. Pada tahun 411 dalam sebuah perjalanan yang dilakukannya ia tidak pernah pulang. Setelah itu anaknya Abul Hasan Ali menjadi khalifah dengan gelar Az-Zhahir li ‘Izazidinilah.

Abu Tanin anak Az-Zhahir menjadi khalifah menggantikan ayahnya. Ia bergelar Al-Mustanshir bi Alah. Ketika menjadi khalifah umurnya baru tujuh tahun. lama masa pemerintahannya 60 tahun. Ia juga adalah akhir khalifah dari dinasti Fathimiyyun. Mengingat ia menjadi khalifah pada umur tujuh tahun kekuasaan yang sebenarnya dipegang oleh menteri-menterinya. Pengaruh mereka membawa dampak yang buruk. Pemerintah menjadi sangat rasialis, partai-partai oposisi semakin banyak bahkan roda pemerintahan dilandaskan kolusi. Kenyataan ini sangat melemahkan pasukan Al-Mustanshir. Nashir Ad-Daulah kemudian menguasai Mesir. Bahkan Ketika di Mesir khutbah yang dibacakan atas nama kekhalifahan bani Abbasiyah. Mesir mengalami masa paceklik yang parah dari tahun 457 hingga 462. Al-Mustanshir untuk kedua kalinya menjadi khalifah menggulingkan Nashir Ad-Daulah dengan bantuan Badr Al-Jamali. Setelah itu ia membangun kembali ekonomi Mesir. Semua penentangnya dibunuh dan setelah itu Badr Al-Jamali dijadikannya sebagai perdana menterinya. Dua puluh tahun masa akhir dari pemerintahannya sangat menyenangkan masyarakat Mesir. Untuk kedua kalinya mesir dikuasai oleh dinasti Fathimiyyun. Setiap khutbah yang dibacakan atas nama Al-Maustanshir. Serbuan tentara Mongol ke Iran, Irak dan Syiria membuat kekuasaan fathimiyyun atas daerah-daerah ini terputus.

Pada tahun 487 Al-Muatanshir wafat. Perselisihan muncul dalam penentuan siapa yang akan menjadi khalifah di antara kedua anaknya Nizar dan Musta’la. Perselisihan yang cukup sengit ini menyebabkan pecahnya Fathimiyyun menjadi dua kelompok besar, Nizariyah dan Musta’lawiyah. Perpecahan ini juga sebagai akhir dari kekuasaan dinasti Fathimiyyun.

Ismailiyah Musta’lawi (Musta’lawiyah)
Musta’lawiyah adalah kelompok Ismailiyah yang mengikuti Musta’la bi Alah sepeninggal ayahnya Al-Mustanshir. Dan sepeninggal Musta’la mereka adalah pengikut Amir. Sepeninggal Amir kelompok Musta’lawiyah ini terbagi lagi menjadi dua kelompok. Pertama, Al-Hafizhiyah orang-orang yang mengikuti Hafiz anak paman Amir yang juga kemudian terkenal dengan Al-Majidiyah. Pada tahun 567 berbarengan dengan musnahnya dinasti Fathimiyyun kelompok inipun musnah. Kedua, At-Thibiyah adalah orang-orang yang mengikuti cucu Amir yang namanya At-Thib. Kelompok ini sesuai dengan perjalanan waktu di ikuti oleh masyarakat Buhrah Gujarat India. At-Thibiyah juga terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, At-Thibiyah periode Yaman yang pada abad kesepuluh Hijriah terbagi menjadi dua kelompok; Ad-Dawudiyah di India dan Sulaimaniyah di Yaman. Kedua, At-Thibiyah periode India yang dimulai dari abad kesepuluh Hijriah.
Ismailiyah Nizariyah yang pada tahun 487 karena meninggalnya Al-Mustanshir berselisih masalah kekhilafahan dengan Musta’lawiyah. Pengikut mereka banyak dari orang-orang Iran dan Syiria. Kelompok Nizariyah juga memiliki dua periode.

Ismailiyah Nizariyah pada periode Alamut (483-654)
Pemerintahan Nizari yang berada di Iran dipimpin oleh Hassan Sabah dan tujuh khalifah sepeninggalnya (mereka dikenal dengan penguasa-penguasa Alamut). Tujuan Hassan Sabah dengan mendirikan pemerintahan Nizari untuk berhadap-hadapan dengan pemerintahan Saljuqi. Sementara pemerintahan Fathimiyyun di Mesir di bawah perdana menteri Badr Al-Jamali tidak mampu membela pengikut Ismailiyah kawasan timur.

Ismailiyah Periode Alamut Dapat Dibagi Menjadi Tiga Bagian :
1.    Dari tahun 483-557 pembentukan negara Ismailiyah Nizari oleh Hassan Sabah (W. 518) dan dilanjutkan oleh Hassan Sabah sendiri dengan menguatkan kekuatannya yang diteruskan oleh dua penggantinya, Kiya Buzurg Unik (W. 532) dan Muhammad bin Buzurg Unik (w. 557).

2.    Dari tahun 557-607. Khalifah keempat dan kelima pemerintahan Alamut di samping mengaku sebagai Imam mereka juga melakukan aktivitas politiknya sebagai simbol. Keduanya adalah Hassan kedua (W. 561) dan anaknya ‘Ala Nuruddin Muhammad kedua yang berkuasa selama 44 tahun hingga tahun 607.
3.    Dari tahun 607-654 dengan tetap berusaha menjaga ajaran aslinya mereka melakukan pendekatan dengan Ahli Sunnah. Masalah pendekatan ini semasa dengan tiga khalifah Nizariyah terakhir; Jalaluddin Hassan (Hassan ketiga) (W. 618), “Alauddin Muhammad ketiga (W. 653) dan Khur Shah (W. 654).

Ismailiyah Nizariyah setelah periode Alamut
Setelah penyerangan tentara Mongol banyak sekali orang-orang pengikut Ismailiyah yang terbunuh namun pengganti Khur Shah berhasil disembunyikan dan selamat. Mereka yang selamat benar-benar melakukan taqiyyah untuk dapat mempertahankan hidupnya. Selama dua tahun mereka tidak pernah melakukan hubungan dengan Imam mereka. Pelaksanaan taqiyyah yang berkepanjangan ini mengambil bentuk yang beragam yang dampaknya sangat merugikan karena banyak tradisi bahkan identitas keagamaan mereka yang benar-benar terlupakan.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Syiah Isma’iliyyah merupakan salah satu sekte Syi’ah yang banyak menyimpang dari ajaran Islam. Dia adalah sekte yang dinisbahkan kepada Imam Isma’il ibn Ja’far al-Shadiq, yang wafat pada tahun 143 H., bertepatan dengan tahun 765 M. Sekte ini berbeda dengan sekte Itsna’ Asyariah, yang berkeyakinan bahwa Ja’far al-Shadiq, Imam keenam, telah memberikan imamah kepada anaknya, Musa al-Kazim, kemudian selanjutnya kepada keturunannya.

Menurut Syiah Isma’iliyyah, hal itu dilakukannya karena di dalam riwayat dikatakan bahwa Isma’il, kakak Musa al-Kazim, adalah seorang pemabuk berat. Tidaklah masuk akal, jika Ja’far al-Shadiq yang dikenal taqwa, alim serta wara’, memberikan wasiat kepada anaknya yang pemabuk. Namun demikian, pengikut Isma’il menolak keputusan Ja’far tersebut, dengan alasan bahwa Isma’il adalah seorang yang ma’sh¬m (terbebas dari kesalahan dan dosa) sekalipun dia pemabuk berat. Kesenangannya meminum minuman keras adalah atas sepengetahuan Allah. Atas dasar inilah, mereka mengakuinya sebagai imam, dan sebaliknya seringkali imamah saudaranya, Musa al-Kazim.

Isma’il adalah anak sulung Ja’far al-Shadiq yang dikatakan telah meninggal terlebih dahulu dari pada ayahnya. Tentang berita tersebut, di kalangan Syiah Isma’iliyyah sendiri terjadi perbedaan tersebut, di kalangan Isma’iliyah sendiri terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa dia benar-benar telah minggal sebelum ayahnya, ada juga yang beranggapan bahwa sebenarnya dia masih hidup sampai ayahnya wafat, namun sengaja dikabarkan telah meninggal guna untuk menjaga keselamatannya dari penganiayaan penguasa Bani Abbas. Bahkan mereka beranggapan bahwa Isma’il tidak meninggal, melainkan sekedar bersembunyi dan akan muncul kembali sebagai al-Mahdi yang dijanjikan.

Akibat dari perbedaan pendapat itu di kalangan mereka mengenai maaslah kematian Isma’il, maka sekte Isma’iliyah ini terpecah lagi ke dalam dua sub sekte lagi, yakni:
1.    Qaramitha, yang dinisbahkan kepada Hamdan ibn Qatmath yang terbentuk menjelang akhir abad ketiga hijriah. Kelompok ini terbetuk karena menghentikan imamah pada diri Muhammad ibn Isma’il. Mereka berpendapat bahwa Isma’il benar-benar telah meninggal dan digantikan oleh putranya, Muhammad ibn Isma’il, yang menghilang dan akan muncul kembali sebagai al-Mahdi yang dijanjikan. Karena mereka hanya mengakui tujuh imam, maka mereka juga dikenal dengan nama Syi’ah Sa’iyah.
2.    Druz atau Hakimiy, yang masih mengakui terus imamah anak-anak dan keturunan Muhammad ibn Isma’il (Imam ketujuh mereka). Mereka berkeyakinan bahwa walaupun Isma’il betul telah meninggal di masa hidup ayahnya, namun dia tetap sebagai imam yang sah, kemudian imamahnya itu berpindah kepada anaknya, Muhammad ibn Isma’il, dan keturunannya. Tokoh yang mendirikan sub sekte ini adalah al-Hasan ibn Muhammad al-Shabbah, yang mulai ajarannya pada tahun 483 H. Kemudian, dia pindah ke Mesir pada masa kekuasaan Dinasti Fatimiyah, yang didirikan oleh salah seorang keturunan Muhammad ibn Isma’il, yakni Ubaidillah al-Mahdiy.
Dalam perkembangan selanjutnya, golongan inipun terpecah lagi menjadi dua kelompok, sebagai akibat perselisihan mereka dalam masalah imamah. Selama tujuh generasi, imamah Dinasti Fatimiyah di Mesir ini berlangsung dengan mulus tanpa ada pertentangan. Namun, setelah imam ketuju, al-Muntashir Billah, putra-putranya. Nazir dan Musta’liy, mempertengkarkan masalah imamah. Setelah terjadi pertempuran, Musta’liy menang dan menangkap kakaknya. Nazir, untuk selanjutnya dipenjarakan hingga wafat.
Setelah peristiwa ini, maka mereka terpecah menjadi dua kelompok lagi, yakni kelompok Naziriyah yang merupakan pengikut al-Hasan ibn Muhammad al-Shabbah, Kelompok lainnya adalah pengikut Musta’liy yang dikenal dengan nama kelompok Musta’liyah. Imamah mereka berlangsung selama kekuasaan Dinasti Fatimiyah di Mesir sampai berakhir tahun 567 H./1171 M. Pengikut kelompok ini masih ada sampai sekarang di India dan Yaman.

Ismailiyah Disebut juga Tujuh Imam; dinamakan demikian sebab mereka percaya bahwa imam hanya tujuh orang dari ‘Ali bin Abi Thalib, dan mereka percaya bahwa imam ketujuh ialah Isma’il. Urutan imam mereka yaitu:
1.    Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
2.    Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
3.    Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
4.    Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
5.    Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad al-Baqir
6.    Ja’far bin Muhammad bin Ali (703–765), juga dikenal dengan Ja’far ash-Shadiq
7.    Ismail bin Ja’far (721 – 755), adalah anak pertama Ja’far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim.

B.    SARAN
1.    Kapada para pembaca yang ingin Mengetahui tentang aliran syi’ah utamanya syi’ah ismailiyah, maka perbanyaklah membaca buku-buku sejarah yang berkaitan dengan syi’ah ismailiyah tersebut
2.    Kepada Dosen pengampu dalam mata kuliah “Ilmu Kalam” apabila ada kesalahan mohon bimbingan untuk kesempurnaan dalam pembuatan makalah selanjutnya
3.    Dalam penyunan makalah ini kami menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dan kesalahan, untuk itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca sekaligus demi tercapainya kesempurnaa dalam makalah ini.



DAFTAR PUSTAKA

Tarekh va ‘Aghayed-e Esma’iliyah, Farhad Daftari, tarjumeh Feridun Badreh-i.

Esma’iliyah va Gharameteh dar Tarekh, ‘Aref Tamer, tarjumeh Hamira Zamurrudi.

Tarikh Ad-Da’wah Al-Isma’iliyah, Musthafa Ghalib.

Al-Isma’iliyah bina Al-Haqaiq wa Al-Abathil, Hasyim ‘Utsman.
Share this article now on :

Poskan Komentar

:)) ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} :)] ~x( :-t b-( :-L x( :-p =))